BH ungu yang pernah
kujanjikan buatmu
belum bisa kubeli
uangku belum cukup,
sayang.
Kupakai buat makan hari ini
Belum juga bisa kubeli
Uangku belum cukup,
Sayang
Maaf...
BH ungu yang pernah
kujanjikan buatmu
belum bisa kubeli
uangku belum cukup,
sayang.
Kupakai buat makan hari ini
Belum juga bisa kubeli
Uangku belum cukup,
Sayang
Maaf...
Diposkan oleh Fadli Bumi di 15:39
kekasih
;evi
yang kupersembahkan untukmu
sebuah kata terlahir
dari lidahku yang mengagumimu
dan sebuah tulisan dari tangan
yang masih ingin menyentuhmu
akan aku gubah sebuah lagu untuk
memuja makna dari senyummu, juga
akan kujadikan puisi ini ungkapan
rasa kagum akan merdunnya alunanmu.
kumulai dari huruf yang akan
menjadi kata lalu menjelma kalimat indah
dan dari nada paling dasar meninggi
menjadi lengkingan puji-puji.
dan kuperjelas langkahku
biar kau tahu kemana arahku.
Diposkan oleh Fadli Bumi di 21:48
aku masih perjaka kelamin
tapi tidak perjaka tangan.
Diposkan oleh Fadli Bumi di 21:43
terbukti !
malam tadi aku berhasil masuk
tapi bukan kuperawani, karena
ternyata karmilaku sudah tidak perawan
dialah pelakunya !
Diposkan oleh Fadli Bumi di 21:33
adalah saat ini entah
besok atau kemarin, tapi
sebentar lagi matahari
membuka mata
lalu hari baru akan serta merta
memulai dirinya
adalah hari ini langit
akan kusentuh
lalu bunga yang ditanam
akan mekar bersamaan
dengan matahari yang
membuka mata .
Diposkan oleh Fadli Bumi di 21:30
renta langkah menapak tanah datar,
menanti di depan ribuan jarak dan basah keringat
banyak kerut di dahi menggambar telah lama Ia hidup
lusuh kain yang menutup menanda hasil di dapat
lelaki tua yang setia membasahi tanah retak yang akan
menjadi hidup dan beberapa titik waktu untuk tersenyum
“Mau ke kebunkah kau bapak tua?”
tundukan ramah ia pasti kepada yang menanya
senyum juga tak lupa Ia sunggingkan, tapi
percuma kau cari arti dari senyumnya yang simpul
itu hanya akan menjadi beban lagi
bagi dada yang sesak mencari nafas
pohon-pohon duka di kebun pak tua menjulang,
nangis pada matahari yang menatapnya sinis
pohon luka yang menjadi teman pak tua
untuk berdansa menikmati hari sepi,
yang tertanam di taman-taman hidup.
tetesan batin pak tua mengawan,
satu rasa menjelma menjadi setiap angin
sebagai pelukan bagi restu yang datang
dari sekian awan dan fatamorgana.
pak tua di ujung bukit menganyam tikar warna warni
biar menjadi kado ulang tahun untuk orang-orang sekitar.
demi gugusan langit yang tersusun membentuk umur.
pak tua bertubuh terjemur,
kulitnya lumur resah di tindih jempol bumi yang besar.
tapi tidak lebur si tua di tanah retak,
tanah milik orang-orang sekitar.
Diposkan oleh Fadli Bumi di 20:18
sujudku pada dadamu
perempuanku yang jalang
aku akan memancarkan pujaan
dari ubun-ubun duka yang gelap
‘kan kumasuki buah di dadamu
sambil berpeluh dengan
nikmat yang tak tertolak
jawablah semua pertanyaanku
dengan desahanmu yang paling binal.
setelah segala peluhku bercurah
maukah kuajak kau
mengartikan sujudku yang tadi
cukup dengan bisikan-bisikan
yang tertahan atau boleh kita
bicara tapi dengan kata terindah
meski kata itu tanpa makna.
sebenarnya aku ingin mengartikan
gelap malam bersamamu
tapi aku sungguh belum pernah melihat
apakah malam yang gelap itu
benar-benar hitam atau putih.
biarkanlah kuartikan gelapnya malam
yang belum pernah kulihat
seperti kuartikan peluhku
setelah tadi sujud di dadamu.
2007
Diposkan oleh Fadli Bumi di 21:34
kutinggalkan kau dan kutitip
sejumput harapan dititikmu
tak bisa kulupa bentuk senyummu
dititik darah-darah kecil
yang mengalir enggan waktu itu.
gairah belum redup sayang,
masih ada titik yang hinggap
karena terantai di jeruji titik-titik
sebelum basah embun mengering.
aku tidak punya alasan
untuk menghapus titik-titik itu
selama masih ada titik cinta
di pucuk jantungku.......
Diposkan oleh Fadli Bumi di 15:30
bagi-bagi selangkanganmu
pada api yang meminta
dan rasakan kenikmatan
jilatan yang membara
Diposkan oleh Fadli Bumi di 19:53

pada tawa yang ada
air matamu kering di kelopak
kikis dukamu alir ke awan
tajam matamu tertancap
dari tawa yang tak selalu ada
Diposkan oleh Fadli Bumi di 19:31

