Selasa, 16 Oktober 2007

Demi orang-orang sekitar

renta langkah menapak tanah datar,
menanti di depan ribuan jarak dan basah keringat
banyak kerut di dahi menggambar telah lama Ia hidup
lusuh kain yang menutup menanda hasil di dapat
lelaki tua yang setia membasahi tanah retak yang akan
menjadi hidup dan beberapa titik waktu untuk tersenyum

“Mau ke kebunkah kau bapak tua?”
tundukan ramah ia pasti kepada yang menanya
senyum juga tak lupa Ia sunggingkan, tapi
percuma kau cari arti dari senyumnya yang simpul
itu hanya akan menjadi beban lagi
bagi dada yang sesak mencari nafas


pohon-pohon duka di kebun pak tua menjulang,
nangis pada matahari yang menatapnya sinis
pohon luka yang menjadi teman pak tua
untuk berdansa menikmati hari sepi,
yang tertanam di taman-taman hidup.

tetesan batin pak tua mengawan,
satu rasa menjelma menjadi setiap angin
sebagai pelukan bagi restu yang datang
dari sekian awan dan fatamorgana.

pak tua di ujung bukit menganyam tikar warna warni
biar menjadi kado ulang tahun untuk orang-orang sekitar.

tubuh kecil nan kering tetap selalu ikhtiar
demi gugusan langit yang tersusun membentuk umur.

pak tua bertubuh terjemur,
kulitnya lumur resah di tindih jempol bumi yang besar.
tapi tidak lebur si tua di tanah retak,
tanah milik orang-orang sekitar.

2007


0 komentar: